Kopi luwak dihasilkan dari proses fermentasi biji kopi di dalam perut hewan luwak oleh sejenis acetobacter. Serta kemampuan luwak dalam hal penyeleksian buah kopi yang masak pohon inilah yang sangat menentukan kualitas produk olahan kopi. Namun, apakah 2 (dua) hal tersebut bisa diakali dengan men-skip hewan luwak, untuk menghasilkan olahan sejenis?? Tentu saja bisa, pertama, diperlukan identifikasi acetobacter (bakteri fermentasi) untuk kemudian di-kultur dan dikembangbiakkan. Kedua, dengan mempelajari perilaku dan insting luwak ketika hendak memakan buah kopi, manusia dapat melakukan penyeleksian sendiri. Terus, apakah langkah tersebut sudah pernah dicoba?? Yup. . .Lha??! Kenapa masih saja menggunakan luwak sebagai mediator??? Apakah hasilnya tidak maksimal?? Atau setidaknya mirip dengan aslinya???
Penghilangan peran luwak dalam rantai produksi kopi olahan, dirasa susah untuk dilakukan, dikarenakan fakor sejarah, bahwa indonesia merupakan nagara penemu kopi luwak (pertama) sejak jaman penjajahan Belanda. Terima kasih buat para petani di sekitar Lampung, dimana pada masa itu menemukan cara untuk menyembunyikan hasil perkebunan kopi dengan memanfaatkan perilaku luwak (hama tanaman kopi), dari incaran VOC. Dan tetap berprinsip, kebiasaan ngopi tidak bergantung kondisi apapun, ngopi untuk mengistirahatkan jiwa barang sejenak.Alhasil, para bangsawan VOC-pun tertarik akan keunikan perilaku para petani dalam hal penyajian kopi olahan untuk dimunum bersama-sama. Bukannya marah, malah tersugesti untuk mengembangkan dan mempromosikan kopi olahan ini keluar negeri. Maklum, saat itu mungkin orang Belanda belum mengenal minuman kopi, apalagi kopi yang dihasilkan dari perut luwak. . . hehe..
Dari segi citarasa, kopi luwak memang relatif agak lebih baik, walaupun saat ini masih bersifat perseonal taste. Fermentasi biji kopi oleh luwak sedikit mengurangi kepahitan, serta menambah wangi pandan pada aromanya. Namun perlu diketahui bahwa fermentasi oleh luwak tidak mengubah rasa dasar biji kopi, misal kopi sumatra selatan yang terkenal lebih fruity, akan tetap berasa demikian. Begitu pula dengan kopi robusta, arabica, dll akan tetap berasa sama. Fermentasi oleh luwak hanya bersifat optimisasi saja.
Secara pribadi, setelah seringkali mencicipi kopi luwak (hanya dari jenis arabica), baik di kelas cafe, warung, maupun bikinan sendiri di desa, saya tidak menemukan keistimewaan rasa. Sensasi yang saya tangkap relatif biasa-biasa saja. Pak-dhe saya yang di desa malah berpendapat keras, bahwa orang kota telah tertipu oleh branding. Hohoho..
Harganya yang mahal, berkisar Rp. 100.000,- per-cangkir –bijaknya memang tidak ditujukan untuk membeli citarasa / sensasi, melainkan untuk membeli momen sejarah dan penghargaan saja. Berbeda dengan orang kota-kaya yang bertujuan meminum kopi luwak hanya untuk meningkatkan martabat semu mereka, atau yang biasa disebut sebagai penyelenehan gaya hidup.